
MEDAN , Jamkesnews – UPTD Khusus RSU Haji Medan sedang bergerak cepat. Setelah meraih predikat Bintang 3 dari BPJS Kesehatan, rumah sakit ini menargetkan naik ke Bintang 5. Untuk itu, transformasi digital pun digenjot di bawah kepemimpinan Direktur dr. Yulinda Elvi Nasution, M.Kes.
Predikat Bintang 5 menjadi tolok ukur mutu layanan yang dikejar. Sasarannya jelas, yaitu mempercepat dan mempermudah layanan bagi peserta JKN. Transformasi ini tak berhenti di digitalisasi rekam medis. Perbaikan alur layanan, renovasi fasilitas, hingga budaya pelayanan yang lebih ramah juga ikut dibenahi.
Transformasi Digital lewat Rekam Medis Elektronik
Salah satu langkah terbesar adalah penerapan Rekam Medis Elektronik (RME). Sistem ini ditargetkan meluncur pada Agustus tahun ini. Peluncuran dilakukan setelah instalasi sistem dan pelatihan tenaga medis rampung.
Menurut dr. Yulinda, digitalisasi ini penting untuk menekan kesalahan administrasi. Selama ini, sistem manual masih berpotensi keliru.
“Kalau menghitung secara manual tentu ada kemungkinan terjadi kesalahan. Dengan sistem elektronik, data tinggal diproses dan dicetak sehingga administrasi menjadi lebih akurat,” ujarnya.
Selain itu, RME juga mempercepat proses klaim ke BPJS Kesehatan. Dengan begitu, risiko klaim tertunda akibat dokumen terlewat bisa ditekan.
“Kalau semua sudah menggunakan sistem, kelupaan-kelupaan administrasi itu bisa dihindari. Harapannya hampir tidak ada lagi klaim yang tertunda,” katanya.
Satu Sistem untuk Semua Layanan
Untuk mewujudkannya, RSU Haji Medan menggandeng PT Nuha sebagai vendor baru SIMRS. Sistem ini menggantikan yang lama dan mengintegrasikan seluruh layanan dalam satu platform. Cakupannya mulai dari RME, laboratorium, radiologi, farmasi, rawat jalan, hingga keuangan.
Dengan sistem yang saling terhubung, setiap layanan pasien tercatat otomatis. Alhasil, risiko salah catat maupun dokumen terlewat bisa diperkecil.
“Kalau sekarang masih manual, ada kemungkinan terjadi kesalahan pencatatan. Dengan sistem yang terintegrasi semuanya sudah saling terkoneksi sehingga administrasi menjadi jauh lebih akurat,” ujar dr. Yulinda, yang saat itu didampingi Plt. Wakil Direktur Pelayanan Medis, dr. Wida Yolanda.
Manfaatnya pun diproyeksikan besar. Sistem baru ini diperkirakan mampu memangkas waktu tunggu pasien hingga sekitar 50 persen. Proyeksi itu mengacu pada pengalaman rumah sakit lain yang lebih dulu menerapkannya.
Sebagai persiapan, RSU Haji Medan menghadirkan Dr. Ediansyah, Direktur Rumah Sakit Annisa Tangerang. Ia memberi kuliah umum kepada para dokter soal penerapan RME dan integrasi aplikasi layanan.
Dampak ke sisi keuangan juga diharapkan. Berdasarkan pengalaman RS Annisa Tangerang, satu tempat tidur bisa menghasilkan sekitar Rp1,5 miliar per tahun. Sementara di RSU Haji Medan, angkanya saat ini masih berkisar Rp500 juta–Rp600 juta per tahun. Meski begitu, manajemen menegaskan angka itu hanya benchmark. Hasil di RSU Haji Medan akan dievaluasi setelah sistem berjalan beberapa bulan.
Antrean Lebih Tertata lewat Mobile JKN transformasi digital
Transformasi juga menyentuh sistem antrean. RSU Haji Medan mengoptimalkan Mobile JKN agar peserta bisa memilih jadwal kunjungan. Dengan begitu, pasien tak perlu datang sejak pagi hanya untuk ambil nomor antrean.
“Kalau nomor antreannya lima, pasien tinggal datang sesuai estimasi waktunya. Tidak perlu menunggu lama di rumah sakit,” jelas dr. Yulinda.
Perubahan ini penting mengingat kunjungan rawat jalan cukup tinggi. Saat ini, jumlahnya mencapai sekitar 700 hingga lebih dari 750 pasien per hari.
Layanan farmasi juga ikut dibenahi. Lewat integrasi RME, resep dokter langsung terkirim elektronik ke instalasi farmasi. Alhasil, pasien tak perlu lagi membawa resep kertas karena datanya sudah tersedia di sistem.
Pembenahan Fasilitas Fisik
Di luar urusan digital, fasilitas fisik juga disiapkan. Manajemen berencana memperluas sejumlah ruang poli yang dinilai sudah tak mampu menampung pasien.
Selain itu, layanan bedah akan diperkuat dengan ruang tindakan kecil. Ruang bekas bedah pun direncanakan menjadi Poli Anak yang lebih luas. Rumah sakit juga menyiapkan ruang bermain anak serta ruang tunggu keluarga di sekitar ICU. Area itu memanfaatkan taman lewat dukungan hibah dari BPJS Kesehatan.
SDM dan Pelayanan Ramah Tetap Utama
Bagi dr. Yulinda, teknologi saja tidak cukup. Kesiapan sumber daya manusia sama pentingnya.
“Alat yang bagus harus diimbangi SDM yang disiplin dan mampu menggunakannya. Kuncinya tetap pelayanan yang ramah kepada pasien,” tegasnya.
Karena itu, ia rutin memantau langsung berbagai unit layanan. Tujuannya memastikan budaya melayani tetap terjaga meski jumlah pasien terus naik.
Edukasi ke pasien pun tak dilupakan. Sebelum pulang, petugas membantu mengaktifkan dan mengajarkan Mobile JKN untuk kontrol berikutnya. Bagi pasien lansia atau penyandang disabilitas yang kesulitan memakai ponsel, petugas bahkan memberi pendampingan langsung.
Semua itu menjadi bagian dari komitmen RSU Haji Medan. Lewat transformasi digital, rumah sakit ingin menghadirkan layanan yang lebih cepat, transparan, dan efisien — tanpa kehilangan sentuhan manusiawi.
“Jadi kita ingin semua pasien kita benar-benar terlayani dengan sangat baik,” tutupnya.